Ikhtiar yang ke dua – Part 1 (H1-H5)

Halo blog udah lama banget gak update nih blog jadi malu.. Sebenarnya udah lama banget pengen bisa ngisi blog ini minimal sebulan sekali lah.. tpi apa daya itu semua hanya angan-angan karena tidak didukung dengan niat yang kuat sih… ditambah lagi pengen ngisi blog ini dengan bahasa inggris sebagai latihan writing juga.. ah sudahlah terlalu banyak angan-angan saya ini..

Akhirnya ada waktu untuk ngisi blog lagi karena lagi masa dua minggu menunggu atau istilahnya two-week wait dari proses insem yang saya jalani bulan ini Januari 2016. Nanti saya akan posting tentang pengalaman Insem pertama saya di postingan berikutnya. Beberapa update juga telah saya tulis di halaman It’s Me and My Dreams.

Ok kayaknya saya akan cerita dalam bentuk flash back. Dimulai dengan pengalaman mendapatkan momongan yang sudah saya dan suami upayakan selama 4.5 tahun ini. Mudah-mudah yang baca ngerti dan bisa bermanfaat bagi semua mom-to-be di mana pun anda berada agar kita bisa saling belajar dan menguatkan. Untuk mempersingkat perjalanan mom-to-be saya berikut saya bikin dalam point mudah-mudahan nanti bisa saya ceritakan satu persatu dalam blog ini:

  • Juli 2011 –> Menikah
  • September 2012 –>Pertama kali ke dokter di RSPI, tes TORCH ada virus, HSG paten semua dan sperma suami sehat.
  • Oktober-Desember 2012 –> Penyembuhan virus dan mencoba hamil alami
  • Januari 2013 –> Virusnya kambuh
  • Februari 2013 –> Penyembuhan virus
  • Maret 2013 –> mulai program hamil kembali
  • April 2013 –> pakai suntik pemecah telur,
  • Mei 2013 –> ketahuan ada radang leher Rahim gara-gara virus yang kambuh
  • Juni 2013 –> Tindakan Papsmear untuk memperjelas adanya radang leher Rahim dan tindakan cryo untuk mengatasi radang leher Rahim
  • Agustus – Desember 2013 –> stop program karena bulan puasa dan persiapan suami berangkat Haji
  • Januari – Juli 2014 –> coba program hamil alami karena di kantor juga lagi sibuk banget, sempet pake habbatussaudah, madu kehamilan, jus 3 diva, serbuk kurma, jintan hitam, spirulina, gamat, apalagi ya??
  • Agustus 2014 –> mulai program ke dr lagi di RSPI, ada polip Rahim
  • Oktober 2014 – Desember 2014 –> berhenti program karena saya prajab CPNS selama dua bulan
  • Januari 2015 –> Umroh
  • Februari 2015 –> mulai program kembali tapi pindah ke Klinik Yasmin Kencana RSCM, ada polip disarankan untuk Histeroskopi
  • Maret 2105 –> Tindakan histeroskopi
  • April-Mei 2015 –> mulai program lagi tetapi ternyata dengan obat penyubur tetap tidak ada telur yang matang, sempet beberapa kali akupuntur juga
  • Juni 2015 –> ketahuan PCO karena resistensi insulin
  • Juli 2015 –> pakai suntik pemecah telur
  • Agustus 2015 –> inseminasi pertama
  • September-Desember 2015 –> stop ke dokter dan obat penyubur
  • Januari 2016 –> insem ke dua di RS. Brawijaya

Inseminasi kedua ini sudah direncanakan oleh kami setelah kegagalan inseminasi yang pertama (nanti akan saya tulis di blog juga) dan belajar dari inseminasi yang pertama (Insem pertama di Klinik Yasmin RSCM Kencana pada bulan Agustus 2015). Untuk insem ini selalu dilakukan saat libur semester supaya saya bisa fokus dan ada waktu istirahat di rumah (kebetulan pekerjaan saya adalah seorang dosen di salah satu PTN di Depok).

Untuk inseminasi kedua ini kami memutuskan untuk pindah dokter, karena ditawarin oleh seorang teman yang adalah seorang obsgyn namanya dr. Mohammad Haekal, SpOg (teman SMU suami) untuk insem dengan dia. Tadinya kami menelpon dia untuk meminta pendapat mengenai insem ke dua di tempat yang sama, akhirnya dy menawarkan untuk insem dengan dia, trus saya tanya di RS mana praktek dan ternyata adalah di RS Brawijaya atau kerennya Brawijaya Women & Children Hospital (BWCH). OMG RS tempat para artis itu pasti mahal nih saya pikir. Akhirnya dirembukkan dengan suami, suami ya setuju aja, suami hanya mengingatkan bahwa RS Brawijaya mahal loh, tetapi saya pikir palingan sama dengan rumah sakit swasta-swasta lainnya di Jakarta. Walaupun saya pikir beliau mungkin masih sedikit pengalaman dan melihat track recordnya adalah lulusan FK UNPAD dan UI, saya yakin bantuan seorang teman pasti sangat tulus dan siapa tau juga jalan kami untuk mendapatkan keturunan lewat tangan beliau, selain itu karena dengan seorang teman pastinya komunikasi kami bertiga sangat terbuka dan sangat fleksibel dan pastinya dia dapat mengerti maksud kami yaitu mendapatkan hasil maksimal dengan biya seminim mungkin hahaha..

Setelah insem pertama memang saya memutuskan untuk istirahat dari segala obat penyubur, karena memang obat penyubur hanya boleh diminum selama 6 bulan berturut-turut (untuk insem pertama bulan Agustus 2015 saya sudah mulai promil dari April 2015 jadi sudah sekitar 5 bulan nonstop minum obat penyubur) kata dr. Gita Pratama, SpOg, M.Rep.Sc atau yang biasa dipanggil dokter Tommy yang menangani promil saya. Sebagai persiapan mulai rajin olahraga teratur dan tetap berharap bisa hamil alami, jika memang belum dberikan rezeki maka libur semester berikutnya langsung mulai program inseminasi ke dua.

Perlu diingat semua promil dimulai pada H2 haid, jadi kapanpun saya hais saya datang besoknya langsung ke dokter. Haid saya diperkirakan akhir Desember, yang kebetulan bertepatan berakhirnya kegiatan belajar mengajar di kampus saya, sehingga saya tidak akan dipusingkan lagi dengan koreksian, nilai-nilai dan tetek bengek lainnya. Kalaupun ada undangan rapat saya izin langusung sedang fokus promil, Alhamdulillah semua teman-teman kantor dan pimpinan mendukung saya.

H2 jatuh pada tanggal 29 Desember (Selasa), malamnya pas dapat haid langsung bikin janji dengan dr. Haekal dan dijadwalkan Selasa Sore jam 16.30. Saya menceritakan dan menyerahkan semua riwayat promil saya yang terdahulu dan menyerahkan semua hasil pemeriksaan terdahulu  (oh iya saya belum menyebutkan permasalahan saya ada PCO karena resistensi insulin) atas saran beliau untuk memperbesar telur-telur saya dengan suntikan, tidak dengan obat viral lagi. Saya langsung teringat dengan cerita-cerita BT yang pernah saya baca yaitu suntik Gonal-F. Ternyata benar dan sore itu pun saya langsung disuntik dengan dosis 150 iu, dan diharuskan suntik sampai H6 yaitu hari Sabtu untuk mengecek perkembangan telur-telur saya. Dan untuk diketahui, Gonal-F ini tersedia dalam dosis 75 iu dan 300 iu, jadi untuk dosis 150 iu berarti saya harus disuntik sebanyak 2 ampul, harga untuk yang 75 iu di BWHC adalah sekital 800ribuan, artinya untuk sekali suntik saya menghabiskan sekitar 1.6 juta. Wow.. tadinya insem pertama hanya mengahbiskan sekitar 8 jutaan, setelah mendengar harga sekali suntik segitu suami dan temanya langsung berhitung cepat, mungkin akan habis 20jutaan (dua kali lipat dari yang pertama bho). Bismillahirrahmanirrahim… akhirnya disuntikkan lah 2 ampul Gonal-F di pantat saya, dan itu rasanya sakiiiiiiit sekali, saya sampe sekitar 5 menitan untuk tidak bangun setelah disuntik itu, sembari suami mengobrol panjang dengan temannya masalah proses insem ini nantinya. Untuk hasil lainnya sudah ok termasuk bakal folikel (calon telur) serta tebal dinding rahim saya.

Untuk persiapan suntik esok harinya (H3) maka saya juga harus membeli resep Gonal-F ini sebanyak 2 ampul (150 iu), kebetulan juga di BWCH stoknya hanya tinggal 4 ampul yang 75 iu. Untuk selanjutnya saya disuruh cari/beli di luar supaya dapat harga yang lebih murah, tidak ada resep lainnya selain saya tetap meneruskan obat Gluchopage untuk masalah resisten insulin saya eh tapi ditambah dosisnya menjadi 2x sehari, serta vitamin E Eturol dan vitamin Fetavita (ini sudah saya minum dari waktu promil dengan dr.Tommi). Rencananya untuk proses penyuntikan setiap hari saya dibantu teman saya seorang bidan ataupun adik ipar saya yang kebetulan seorang dokter jadi saya tidak perlu pergi ke rumah sakit setiap hari. Sepulang dari dokter kami langsung pulang ke rumah dan memulai hunting obat Gonal-F via handpohone, langsung saja kami menghubungi Apotik Rini langganan kami di Rawamangun untuk menanyakan obat tersebut, untung saja Apotik Rini sekarang bisa dihubungi via whatsapp, dan kami ingat salah satu kakak istri teman saya yang pernah BT, pasti pernah menggunakan obat tersebut. Dijalan pulang dokternya telp kalau mulai besok dosisnya diturunkan aja jadi 75 iu/suntik (1 ampul) kita liat dulu perkembangan sampai H6, kalau memang kurang dosisnya bisa ditambahkan. Alhamdulillah berarti sedikit mengurangi pengeluaran kami, dan kami hanya membutuhkan 2 ampul 75 iu saja untuk sampai hari Sabtu kontrol kembali. Apotik Rini pun confirm tidak ada Gonal-F tetapi bisa pesan dengan dengan harga sekitar 600an,  dan dari teman saya ternyata kakaknya dulu pakai Gonal-F dan beli langsung ke distributornya, ternyata kakaknya ini punya apotik jadi bisa pesan langsung obat apa saja. Akhirnya saya coba pesan2 ampul dengan kak Rina namanya dan bisa dapat harga jauh lebih murah dibanding Apotik Rini (masih sekitar 600ribuan juga).

Gonal F

Gonal-G 75 iu

to be continued…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s